Aku Melawan Kezhaliman

November 23, 2007

Ka’ Jumahana

Filed under: Uncategorized

 

SURAT BALASAN UNTUK GADIS KECIL DI PALESTINA

Ka’ Jumanah Alaa, aku sedih membaca ’surat’mu yang di muat di www.eramuslim.com hari ini. Aku pengin nangis, sayangnya saat ini sampai Ahad besok, Bunda lagi pergi ke Puncak untuk urusan Dinas. Jadi aku ga’ mungkin nangis, takut merepotkan banyak orang. Menitik air mataku sata aku baca satu per satu suara hatimu….

Aku tak berpanjang kata kepadamu, Annapolis. Aku tahu, kamu pasti sibuk menerima tamu. Dari kakek dan guruku, aku mendengar bahwa kamu akan membawa damai. Aku ingin ayahku, ya Annapolis…Ibuku sudah tidak ada. Harusnya penjara tidak boleh lagi mengurung ayahku. Aku sangat rindu belaian tangan ayah. Orang-orang mengatakan, masalah yang akan kamu inginkan itu adalah masalah paling penting untuk Palestina. Dan damai itulah yang akan engkau perjuangkan. Tolong sampaikan kepada Israel.. lepaskanlah ayahku… juga para tawanan yang lain yang begitu menderita seperti mati seribu kali dalam satu hari. Aku minta kepadamu Annapolis.. jangan lupakan masalahku dan rintihanku ini..”

Aku tahu, suratmu ini tertulis dengan air mata yang lara dan kesedihan amat sangat yang menyelimuti hari-harimu. Aku tahu betapa kehilangannya atas kepergian bundamu yang tak mungkin kembali lagi. Sebab Ia telah disisi Allah dengan bahagia, insyaAllah. Dan aku bisa merasakan rindunya engkau terhadap ayahmu sebagaimana aku rindukan ayah-bundaku setiap sore hari. Apalagi telah bertahun-tahun lamanya dirimu berpisah dengannya.

Akupun memahami betapa berharapnya kedamaian itu datang, sebagaimana ku rasakan di Indonesia ini agar “.. aku bisa kembali memeluk ayah… aku bisa ditemani ayah saat hari raya.. aku bisa mendengar ceritanya sebelum tidur sambil memelukku.. aku dibelikan permen.. damai yang juga ingin dirasakan teman-temanku tentang ayah mereka yang selama ini tidak boleh berada di dekat mereka… “. Seperti itulah arti damai bagimu seperti aku juga memahami arti kata itu.

Kakak, semoga engkau senantiasa sabar dan tabah, meski Annapolis takkan bisa berbuat banyak untuk kita, … untukmu. Tapi yakinlah, bahwa kita masih punya Allah yang Maha Rahman dan Rahiiim, meski selainnya pergi dari genggaman kita. Cukuplah Allah sebaik-baik pelindung. Amiin.

September 4, 2007

Jilbab diserang dimana-mana

Filed under: Uncategorized

Ini adalah tulisan ayah tentang jilbab bagian kedua. Pada bagian 2 ini, ayah mengupas peristiwa-peristiwa penistaan terhadap jilbab di berbagai negara di luar negeri. Baik negara-negara Barat, atau pun Timur. Bahkan di negara-negara yang mayoritas penduduk dan pemerintahnya adalah muslim. Ironis dan menyedihkan. OK, simak baik-baik yach temen-temen ..!

================================================ 

Memperingati Hari Solidaritas Jilbab Internasional (bagian 2)
SERANGAN GLOBAL TERHADAP JILBAB

Hari ini, 4 September 2007, adalah Hari Solidaritas Jilbab Internasional yang digaungkan sejak 3 tahun lalu untuk membela dan melindungi jilbab dari penganiayaan dan penistaan. Sejarah telah menyimpan begitu banyak catatan pilu tentang penistaan busana menutup aurat ini diberbagai pelosok dunia. Terlebih di Barat, jilbab seolah adalah sosok monster mengerikan yang harus dienyahkan dari peri kehidupan sosial, budaya, atau pun politik. Sehingga tak heran, pembatasan dan pelarangan terhadap jilbab dituangkan dalam ranah peraturan perundang-undangan negara.

Keluarnya berbagai peraturan atau undang-undang yang melarang pemakaian jilbab diberbagai tempat tak pelak bagaikan minyak tanah yang mengguyur api dalam sekam. Masyarakat non-muslim Barat dan Timur serasa mendapatkan legitimasi untuk bertindak sewenang-wenang terhadap jilbab dalam mengekspresikan rasa kebencian mereka terhadap segala bentuk yang ber-aroma Islam. Karenanya, berbagai serangan terhadap jilbab semakin terjadi secara terang-terangan dan masif.

Di Perancis, kwartal akhir tahun 2002, seorang pekerja wanita muslim bernama Dalila Tahiri, dipecat perusahaan tempatnya bekerja lantaran menolak menanggalkan jilbab yang dikenakannya saat bekerja. Padahal dirinya telah bekerja ditempat tersebut selama 8 tahun. Dan selama itu pula jilbab yang dikenakannya tidak menimbulkan efek negatif apapun, baik dalam kualitas pekerjaannya ataupun hubungan baiknya dengan sesama pekerja. Kebijakan yang secara tiba-tiba diterapkan oleh perusahannya itu dipicu oleh tragedi 11 September yang mengguncang Amerika Serikat tahun 2001.

Namun, dalam perlawanannya atas tindak sewenang-wenangnya perusahaan, Dalila berhasi memenangkan kasusnya dipengadilan, tepatnya pada tanggal 17 Desember 2002. Sehingga pihak perusahaan diwajibkan membayar ganti rugi 1000 uero, membayar gaji Dalila semenjak pemecatannya dan mempekerjakannya kembali di perusahaan tersebut.

Di tahun 2004 giliran Pemerintah Perancis yang melakukan tindakan mendiskreditkan wanita muslim. Presiden dan Perdana Menterinya, Jacques Chirac dan Jean-Pierre Raffarin, bahu-membahu melancarkan serangan terhadap jilbab dan simbol-simbol keagamaan. Undang-undang yang melarang pemakaian jilbab bagi pelajar dan mahasiwi muslimah di sekolah dan kampus dikeluarkan dengan alasan menjaga ke-sekuler-an negara Perancis. Serangan terorganisir kepada jilbab ini di motori oleh partai UMP pimpinan Chirac yang mendominasi Majelis Rendah Parlemen Perancis. Majelis Rendah tersebut telah meloloskan RUU anti-jilbab itu menjadi UU pada 10 Februari 2004.

Keputusan itu menyulut perlawanan sengit dari kelompok minoritas Muslim dan kelompok HAM internasional yang mengecam kebijakan diskriminatif itu. Bahkan para politisi AS yang tergabung dalam Congress International Relations Committee (CIRC) AS, mengeluarkan kecaman keras terhadap pemasungan kebebasan beragama oleh pemerintah Chirac. Beberapa anggota CIRC yang turut menyatakan keberatan terhadap kebijakan pemerintah Perancis terkait dengan pelarangan Jilbab dan simbol-simbol keagamaan diantaranya adalah Brat Sherman (Partai Demokrat) asal California, Betty Malcolm (Partai Demokrat) dari Minnesota, kemudian Christopher Smith (Partai Republik) asal New Jersey, Dana Robaker (Partai Republik) asal California, dan Joseph Bates (Partai Republik) asal Pennsylvnia. Walikota London, Ken Livingstone, juga menunjukkan sikap tegas yang sama. Menolak dan mengecam kebijakan diskriminatif Perancis yang memasung kebebasan menjalankan agama.

Di Belanda, Maret 2006, Geert Wilders yang merupakan salah seorang anggota parlemen sayap kanan menggelindingkan bola liar dengan mengusulkan larangan mengenakan burqa (termasuk juga jilbab) dengan mengatakan bahwa burqa akan menjadi musuh bagi kaum perempuan.

"Seorang perempuan yang berjalan -jalan di jalan dengan seluruh badan tertutup adalah sebuah penghinaan pada semua orang yang meyakini persamaan hak," demikian ungkapnya.

Apa yang dilontarkan oleh Wilders berbuntut kepada munculnya peraturan yang melarang pemakaian burqa secara nasional di seluruh wilayah Belanda pada Desember 2006. Famile Arslan, seorang praktisi hukum Muslim di Belanda mengatakan, "Sebuah negara yang dikenal dengan toleransinya, kini sedang menjadi negara yang akan dikenal dengan kebodohannya".

Juni 2006, larangan pemakaian jilbab meluas di Jerman. 8 dari 16 negara bagian di negeri Hitler itu telah menerapkan larangan pemakaian jilbab di sekolah-sekolah umum Jerman. Negara-negara bagian Jerman yang telah menerapkan larangan jilbab ini diantaranya adalah Baden-Wurttemberg, Berlin, Saarland, Lower Saxony, Bayern, dan North-Rhine Westphalia.

Pelarangan jilbab di Jerman dimulai oleh kasus yang terjadi tahun 1998, setelah Fereshta Ludin seorang guru di Baden Württemberg, menolak melepaskan jilbabnya saat mengajar di dalam kelas. Setelah kasus ini dibawa ke pengadilan, pada Juli 2003 Mahkamah pengadilan tertinggi Jerman menolak keputusan negara bagian Baden -Wurttemberg yang melarang guru Muslimah mengenakan jilbab di kelas. Namun, pada akhirnya Mahkamah pengadilan tertinggi negara memberikan kebebasan bagi 16 negara bagian Jerman untuk mengeluarkan aturan larangan berjilbab jika hal tersebut diyakini memberi pengaruh pada anak-anak sekolah.

Sedangkan di Bayern, aturan larangan memakai jilbab tidak hanya berlaku bagi siswa muslimah saja sebagaimana penerapan larangan di negara-negara bagian lain, tetapi juga termasuk guru pengajarnya. Sementara di Berlin aturan tersebut mengikat semua kalangan masyarakat untuk tidak menggunakan jilbab di area-area publik.

Di Swedia juga terjadi hal yang sama. Seorang pekerja muslimah dipecat dari pekerjaanya oleh sebuah perusahaan taman hiburan Liseberg di Gothenburg karena menolak melepaskan jilbab dan baju lengan panjangnya. Muslimah tersebut hanya diberi kompensasi sebesar dua ribu dollar atas pemecatannya. Larangan memakai jilbab juga berlaku di negara Belgia.

Munculnya wacana pemerintah Spanyol untuk melarang pemakaian jilbab juga semakin menghangat seiring munculnya berbagai larangan dan aturan yang membatasi ruang gerak wanita muslimah berjilbab di berbagai negara Eropa. Terlebih, Gereja Katolik Spanyol mendukung larangan berjilbab di tempat-tempat publik. Mereka menuduh bahwa jilbab adalah simbol penindasan terhadap kaum perempuan. Padahal Spanyol telah mengakui Islam berdasarkan undang-undang kebebasan beragamanya yang disahkan pada Juli 1967.

Pada Oktober 2006, larangan pemakaian jilbab di sekolah juga diterapkan oleh pemerintah Nigeria. Tidak hanya itu, pemerintah juga melarang penggunaan celana panjang dan peci bagi anak laki-laki. Putusan pemerintah itu jelas menuai protes, ribuan pelajar dan mahasiswa turun ke jalan-jalan memprotes kebijakan pemerintah Nigeria yang sangat aneh itu. Mereka meneriakkan yel-yel protes, "Tanpa jilbab, tidak sekolah. Tanpa hijab tidak sekolah."

Bahkan, larangan terhadap busana yang memuliakan kaum muslimah tidak hanya terjadi dinegara-negara Barat saja. Republik Tunisia, sebuah negara Arab Muslim yang terletak di Afrika Utara, tepatnya di pesisir Laut Tengah memiliki sejarah panjang dalam mendiskreditkan jilbab.

Saat kepemimpinan Presiden Tunisia Habib Bourhuiba, ditahun 1981 Tunisia meratifikasi undang-undang nomor 108 yang melarang wanita Muslimah di Tunisia mengenakan jilbab di lembaga-lembaga pemerintahan. Buah dari undang-undang tersebut, ribuan muslimah disingkirkan dari pegawai pemerintahan dan pusat-pusat pendidikan. Larangan yang lebih ketat kembali dikeluarkan pemerintah di tahun 1990-an. Situasi menjadi bertambah keruh dengan ungkapan bernada sumir yang dilontarkan oleh Menteri Urusan Agama, Abubakar Akhzouri. Dia menyatakan bahwa jilbab tidak sesuai dengan warisan budaya Tunisia, dan menilai jilbab sebagai ‘fenomena asing’ dalam masyarakat negara itu.

Dalam perkembangannya, pada tahun 2006, Pemerintah Tunisia secara lebih nyata dalam melancarkan perang terhadap jilbab dengan mengeluarkan peraturan-peraturan ganjil dan sangat tidak manusiawi. Penguasa Tunisia melarang murid-murid perempuan dan mahasiswinya memakai jilbab di sekolah dan di kampus. Hingga pada titik klimaksnya, Pemerintah Tunisia telah ‘mengharamkan’ wanita berjilbab ‘masuk’ dan dirawat di rumah sakit negara. Lebih ‘biadab’ lagi, pemerintah telah melarang ibu-ibu hamil melahirkan anaknya di rumah sakit negara lantaran berjilbab. Padahal Tunisia adalah salah satu negara yang menjadikan Bahasa Arab sebagai bahasa resmi negaranya, sebagaimana Al-Qur’an juga diturunkan Allah dalam bahasa ini.

Bahkan saking kalapnya dalam aksi pemberangusan segala bentuk simbol jilbab, pada September 2006, pemerintah Tunisia menggelar sebuah operasi pengamanan dengan mengobrak-abrik berbagai Toko yang di dalamnya menjual Boneka berjilbab “Fulla”.

Sontak musibah ini membuat geram banyak ulama dan umat Islam secara umum. Dalam salah satu kesempatan khutbah Jum’at di Doha, Qatar, Syeikh Dr. Yusuf Qaradhawi selaku Ketua Umum Persatuan Ulama Internasional turut angkat bicara mengecam pemerintah Tunisaia, "Sesungguhnya perang yang dilancarkan oleh pemerintah Tunisia bukan perang melawan jilbab tapi perang melawan Allah dan Rasul-Nya…" Demikian salah satu petikan khutbahnya di Masjid Umar bin Khattab 3 November 2006 lalu.

Apa yang terjadi di pemerintah sekuler Turki juga setali tiga uang. Larangan berjilbab di negara yang menjadi pewaris kekhilafahan terakhir kalinya sebelum runtuh di tangan Barat ini diberlakukan sejak tahun 1997. Presiden Ahmad Necdet Sezer yang saat itu memimpin negara berpenduduk mayoritas muslim ini mengeluarkan dekrit melarang pemakaian jilbab di institusi pemerintahan, sekolah dan universitas.

Larangan ini kemudian berimbas pada berbagai perlakuan diskriminatif terhadap muslimah. Diantaranya perlakuan diskriminatif itu adalah terampasnya hak-hak wanita berjilbab untuk aktif di organisasi-organisasi sosial dan masyarakat. Wartawan muslimah berjilbab yang tak diizinkan meliput konferensi pers di lembaga-lambaga pemerintahan adalah bentuk lain perlakuan diskriminasi yang diterapkan pemerintah sekuler. Latar belakang dari penerapan pelarangan ini adalah karena bagi kalangan militer, pakar hukum, dan akademisi sekuler, berpendapat bahwa larangan berjilbab merupakan pilar utama negara Turki yang menganut sistem sekuler.

Pemerintah Maroko yang terletak di barat laut Afrika dengan ibukota Casablanca juga melakukan tindakan yang tidak berbeda. Secara sistematik pemerintah Maroko berupaya menjauhkan generasi terpelajarnya dari nilai-nilai Islam. Dengan berdalih untuk mencegah munculnya ekstrimisme, Kementerian Pendidikan menghapus sebuah teks ayat suci Al-Quran tentang seruan menutup aurat (An-Nuur:31), hadist hingga foto seorang anak perempuan berjilbab yang sedang mencium tangan ibunya dari buku teks kurikulum sekolah.

Kebencian terhadap jilbab tidak hanya diwujudkan dalam bentuk diskriminasi hukum. Namun, kampanye global diskriminatif bernuansa SARA ini juga telah merengggut nyawa seorang muslimah di Amerika Serikat yang terbunuh pada Oktober 2006. Sebagaimana di lansir oleh www.eramuslim.com (08/10/06), Alia Ansari, ibu dari enam anak ini tewas ditembak oleh orang tak dikenal, ketika dalam perjalanan untuk menjemput anak-anaknya pulang dari sekolah pada tanggal 19 Oktober, di kawasan pemukiman Glenmoor, Fremont, California. Ia ditembak di depan anak perempuannya yang masih berusia 3 tahun, tidak begitu jauh dari rumahnya. Anggota keluarga Ansari dan sejumlah pemuka Muslim menduga, satu-satunya motif orang yang membunuh Ansari adalah busana Muslimah dan jilbab yang dikenakannya. Pembunuhan itu tidak lain adalah kejahatan karena kebencian terhadap muslim dan Islam.

Di Inggris, November 2004, jilbab juga kembali dilecehkan. Kali ini dilontarkan oleh institusi tertinggi kedua dalam Keuskupan Inggris. Pernyataan itu berasal dari Uskup York, John Sentanu dalam sebuah wawancara dengan surat kabar British Daily Mail yang menyatakan bahwa jilbab tidak sesuai dengan norma-norma kesopanan. Masih pada bulan yang sama, senada dengan John Sentanu, Menteri Kebudayaan Mesir, Farouq Hosin, melontarkan pernyataan bahwa jilbab wanita Muslim sebagai bentuk kemunduran dan kembali ke belakang. Farouq mengklaim bahwa Islam tidak pernah mewajibkan jilbab kepada wanita Muslimah. Bahkan dia mengatakan, sekiranya dirinya punya isteri pasti dia akan melarangnya mengenakan jilbab. Pernyataan keduanya pun kontan memunculkan reaksi keras dari berbagai kalangan.

Kasus teranyar yang mencuat ke permukaan publik internasional adalah peristiwa pengusiran seorang pemain bola bernama Asmahan Mansour, remaja 11 tahun asal Kanada, karena menolak melepaskan jilbabnya saat bertanding. Azzy, demikian biasa ia disapa, bermain bersama klub Nepean Hotspur Selects Ottawa ketika klubnya bertanding dalam kompetisi sepak bola di Laval, Québec pada tanggal 25 Pebruari 2007. Wasit yang mengusir Azzy dari lapangan beralasan karena jilbab yang dipakainya dapat membahayakan pemain lain.

Sungguh alasan yang tidak masuk akal mengingat di banyak Negara Islam pe-sepak bola wanita juga banyak yang menggunakan jilbab. FIFA sendiri tidak ada peraturan resmi yang melarang penggunaan jilbab saat pertandigan, sehingga sepak bola wanita diberbagai negara mayoritas muslim berjalan tanpa ganjalan.

Karenanya alasan wasit yang demikian diskriminatif disesalkan banyak pihak. Termasuk Azzy yang menjadi korban langsung. Ia berujar "Saya tidak mengerti mengapa saya tidak boleh bermain. Hal ini sangat menyedihkan. Jilbab ini adalah (ajaran) agama saya. Wasit hanya melihat bahwa saya wanita Muslimah berjilbab. Karena itu saya tidak berhak ikut serta dalam dunia sepak bola selama tidak melepas jilbab di setiap pertandingan," ungkapnya sedih.

Demikian dahsyat dunia menyerang satu simbol ke-Islam-an ini. Dan betapa takutnya orang-orang non-muslim memandang kemuliaan jilbab, sehingga mereka merasa perlu untuk bersekutu menyerangnya. Padahal, bagi seorang muslimah, jilbab hanyalah sebuah tanda ketaatan kepada Tuhannya, sebagaimana perintah Allah SWT dalam QS. Ar-Ruum: 31, sebagai berikut:

"Katakanlah kepada wanita yang beriman, hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang biasa tampak darinya, dan hendaklah mereka menutup kain kudung ke dadanya….."

Lalu bagaimana dengan di Indonesia??? ( bersambung … )

 

 

August 29, 2007

Jalan Terjal Jilbab

Filed under: Uncategorized

Memperingati Hari Solidaritas Jilbab Internasional (bagian 1)

JILBAB: SEBUAH JALAN TERJAL MERAIH KEMULIAAN

Oleh: Risyanto *


Al-yaumul `alami lil hijab atau International Hijab Solidarity Day dideklarasikan 3 tahun lalu di London, Ibukota Inggris. Konferensi sehari bertemakan "Assembly for the Protection of Hijab" atau "Majelis untuk Perlindungan Hijab" menelurkan sebuah petisi yang berisikan dukungan terhadap jilbab secara ketat. bahkan konferensi yang diselenggarakan 12 Juli 2004 itu menetapkan 4 September sebagai hari solidaritas jilbab internasional.

Konferensi ini dibuka walikota London, Ken Livingstone, dan diikuti 300 delegasi yang mewakili 102 organisasi-organisasi Inggris dan internasional. Ken Livingstone adalah salah satu tokoh Barat yang dikenal konsisten membela hak-hak kaum muslim Inggris dalam kebebasan menjalankan kewajiban agamanya, termasuk dalam persoalan jilbab ini. Pernyataan-penyataannya cukup keras dan tegas menentang pihak-pihak Eropa yang mencoba mengusik ketenangan kehidupan beragama. Disamping itu, tokoh muslim terkemuka Sheikh Dr. Yusuf Al-Qaradawi dan Prof. Tariq Ramadan juga hadir dalam konferensi ini menjadi narasumber.

Saat itu, pelarangan penggunaan jilbab di sekolah-sekolah Perancis telah memicu kemarahan kaum muslimin sedunia. Berbagai aksi-aksi mengecam keputusan PM Perancis pun meluap di berbagai negara. Untuk diketahui, kepala pemerintahan Perancis, PM. Jean-Pierre Raffarin, telah mempelopori Eropa mengeluarkan Undang-Undang tentang larangan jilbab di sekolah-sekolah Perancis. Keputusan ini pun diperkuat oleh Presiden Perancis Jacques Chirac yang menyerukan dilarangnya penggunaan simbol keagamaan itu untuk mempertahankan sistem pemerintahan Perancis yang sekuler pada awal tahun 2004.

Akibatnya, pada pertengahan Januari 2004, ribuan orang turun ke jalan-jalan di Eropa dan Timur Tengah memprotes rencana Perancis yang akan melarang anak-anak perempuan menggunakan jilbab. Di London, Paris, Beirut dan Amman ribuan wanita berjilbab melakukan aksi menentang undang-undang diskriminatif tersebut. Demonstrasi juga berlangsung di Kairo, Berlin dan di Tepi Barat.

Warga Muslim Perancis menggelar aksi demonstrasi pada 7 Februari 2004 di depan Gedung Majelis Nasional Perancis. Aksi itu merupakan bentuk protes kalangan Muslim Perancis terhadap undang-undang larangan jilbab tampil di sekolah-sekolah pemerintah. Movement for Justice and Dignity yang mengkoordinir aksi ini meng-klaim lebih dari 10.000 massa terlibat dalam demo menentang undang-undang anti jilbab yang dikeluarkan pemerintah Perancis tersebut. Aksi-aksi ini didukung perwakilan kelompok-kelompok agama, para aktivis dan organisasi HAM lainnya.

Penyelenggaraan konferensi yang digawangi oleh Pro-Hijab Organization ini diselenggarakan di tengah semakin meluasnya sentimen anti-Islam yang terjadi di negara-negara Barat, terutama negara-negara Eropa yang selama ini dikenal relatif terbuka kepada Islam. Pasca serangan 11 September 2001 yang kontroversial itu kebencian masyarakat Barat meledak. Dan membuka kedok kerapuhan kebebasan berekspresi ala Barat yang selama ini mereka elu-elukan.

Kalangan sekuler, kalangan no-muslim, dan kalangan munafik bersatu padu membidik umat Islam baik dalam bentuk serangan fisik maupun opini. Jilbab sebagai simbol kemuliaan dan kewajiban kaum muslimah menjadi target strategis bagi ‘kelompok sekutu’ itu untuk menghancurkan moral kaum muslimin sedikit demi sedikit. Hal ini bisa dipahami, karena jilbab adalah tanda ketaatan seorang muslimah kepada agamanya. Pelarangan dan pelecehan demi pelecehan terhadap busana yang menutup aurat ini pun semakin meningkat tajam di belahan Eropa dan Amerika.

Pembenturan masalah jilbab dengan tatanan kehidupan sosial politik di Barat yang sebenarnya telah terjadi jauh sebelum tragedi 2004 ini memang membuat prihatin banyak kalangan. Tidak hanya membuat miris ulama-ulama muslim saja, para pemikir dan kalangan ilmiah Barat pun turut mencemaskan keadaan ini. Karenanya, tokoh-tokoh di Barat yang lebih netral pun turut bersikap. Diantaranya adalah Walikota London Ken Livingstone, yang bersikap tegas membela kebebasan berjilbab. Seorang anggota Kongres AS, Brat Sherman dari Partai Demokrat asal California, juga mengajukan draft resolusi mengecam undang-undang (UU) anti jilbab Perancis (10/2/2004).

Ledakan diskriminasi anti-Jilbab yang terjadi demikian meluas semenjak awal 2004 itu sesuai dengan apa yang di kemukakan seorang pemikir dan penulis Barat Wendy Shalit, dalam bukunya yang terbit tahun 1999 berjudul berjudul A Return to Modesty atau ‘Kembali Kepada Kesederhanaan’, ia menuliskan, "Tidakkah merupakan sebuah hal yang aneh ketika kita tidak bisa berbicara mengenai sebuah hal yang sangat penting dan sangat kita perlukan? Kita terpaksa membicarakan masalah penting itu secara rahasia dan sembunyi-sembunyi. Hijab seorang perempuan adalah salah satu topik yang telah dilarang untuk dibicarakan pada zaman ini dan merupakan salah satu dari pintu-pintu yang tertutup, yang ditampilkan sebagai hal yang bahaya. Masalah hijab tidak sekadar menjawab sebuah pertanyaan, melainkan merupakan pakaian yang tepat bagi kaum perempuan, sehingga topik ini bisa menguncang segalanya."

* Direktur Daerah LPPDSDM DPD BKPRMI Kota Tangerang

 

June 25, 2007

Kisah Pilu Seorang Bunda

Filed under: Uncategorized

DAN SEORANG BAYI TERSUNGKUR BERSIMBAH DARAH

 
Ini adalah cerita seorang ibu muda Palestina pada 30 uni 2007 lalu yang dirampas kebahagiaannya oleh penjajah Israel. Namanya Asma Abdullah Kabha, berusia 25 tahun. Ibu muda berasal dari sebuah desa di sebelah timur distrik Jenin, wilayah selatan Tepi Barat, ini baru saja menjalani operasi cesar di sebuah rumah sakit di kota Yafa. 

Bersama keluarganya dirinnya menumpang sebuah mobil. Hingga tiba di pos perbatasan pintu ‘Raihan’ serdadu Israel memaksanya turun meski kondisi Asma baru saja menjalani operasi cessar dan masih sangat lemah. Dengan bayi yang masih merah dalam dekapannya tidak membuat penjaga perbatasan itu tersentuh untuk memberi kemudahan barang sedikit pun. Asma pun menapakkan kakinya turun dari mobil dengan tatapan nanar suami dan keluarganya.

Hari itu Asma mendekap bayinya dan terpaksa jalan kaki di bawah terik panas matahari yang membakar. Namun tubuhnya gemetar dan tak sanggup berjuang melawan paksaan itu. Dengan menahan rakit akibat persalinan dan jahitan diperutnya, Asma berjalan sangat pelan dan berat sambil mendekap anaknya dari sengatan panas matahari. Dia pun jatuh tersungkur ke tanah dan pinsan tak sadarkan diri di bawah tatapan para serdadu Zionis Israel.

Asma Kabha berbaring tak sadarkan diri di rumah sakit selama 3 hari dan mendapatkan pengawasan medis secara internsif karena kondisi kesehatannya semakin buruk. Setelah sadar, Asma meninggalkan rumah sakit dan pulang ke rumahnya, setelah para dokter memutuskan kondisi kesehatannya mulai membaik. Asma tak mampu lagi mengingat kembali kebahagiaan yang telah direnggut para serdadu Israel darinya hari itu. Sementara ingatannya akan terus menanggung bekas luka itu. Ingatan yang tak mampu melindunginya dari saat-saat mengerikan ketika dia berusaha melindungi bayi merahnya yang berayun-ayun di antara kedua tangannya saat dia terjatuh berlumuran darah.

Kutipan kisah nyata dari www.infopalestina.com diatas begitu menggetarkan relung hatiku. Menggenangkan bulir-bulir air dipelupuk mataku yang kian lama kian membanjir. Betapa jahat dan kejinya serdadu-serdadu Yahudi itu. Mereka memang orang-orang jahat yang pengecut lagi buta. Pengecut karena ketakutannya yang besar kepada lahirnya tangan-tangan kecil yang akan mengancam makar dan tipu daya mereka. Dan buta terhadap cibiran bangsa-bangsa lain yang jujur atas perlakuannya yang buruk kepada kaum wanita lemah dan bayi-bayi Palestina yang masih berlimur darah.

"Bunda Asma…. ". Aku dapat merasakan sakit dan derita yang engkau alami, sebagaimana bundaku yang masih lemah di hari-hari pertama setelah persalinan kelahiranku. Bunda ku juga melalui persalinan kelahiranku dengan operasi cessar sepertimu. Maka aku pun tahu betul lemahnya dirimu di kala tragedi itu. Namun demikian, semoga engkau tabah dan sabar seperti sabar dan tabahnya para ahli syurga.

Kalian Yahudi penjajah, pasti akan tiba waktunya kalian terusir dengan kehinaan, terkepung dan lari tunggang langgang hingga pohon dan batu-batu pun bersuara nyaring membongkar persembunyianmu. Dan kesombongan serta kekejian kalian pasti akan hancur dan musnah.

Aku juga ingin katakan kepada para pemimpin dunia Arab dan dunia internasional. Kalian hanyalah orang-orang lemah dan miskin nurani. Apa yang sedang kalian lakukan ketika seorang bayi yang masih merah harus jatuh tersungkur bersimbah darah dalam dekapan ibunya yang lemah dan teraniaya? Mungkin kalian sudah tidak lagi punya hati.

 

======================================================= 

June 14, 2007

KUDETA Sempalan Fatah

Filed under: Uncategorized

ATAS PASUKAN PRO-KUDETA FATAH, AKU BERSIKAP! 

 
Ada genangan di pelupuk mata ketika menyaksikan apa yang terjadi di bumi jihad Palestina saat ini. Bukan karena kekejian Israel yang terus saja menembaki orang-orang Palestina, bukan karena Yahudi la’natullah membombardir rumah-rumah mereka, juga bukan karena agresor bengis itu mengoyak tubuh bocah-bocah Palestina dengan meriam dan pesawat tempur mereka.

Kesediahan ini karena telah tertumpahnya darah-darah suci oleh orang-orang yang mestinya menjadi saudara sepenanggungan dalam perjuangan mengusir penjajah Israel. Kesedihan ini disebabkan lahirnya ‘tangan-tangan’ sadis dari kalangan Palestina sendiri yang tega memberondong tubuh mujahid-mujahid ikhlas tanpa peri-kemanusiaan, padahal mereka adalah barisan orang-orang yang tak kenal lelah berjuang untuk kemerdekaan Palestina dan Al-Aqsho.

Ada kegeraman yang membuncah ketika menyaksikan gerombolan pro-kudeta sempalan sayap militer Fatah mencabik-cabik kehormatan bangsanya sendiri dengan bertekuk lutuk dan meng’hamba’ kepada Zionis dan Amerika pecundang. Mereka tidak kalah sadis dari ‘tuan’ nya dalam membantai muslim Palestina, padahal identitas mereka masih muslim dan berkewarganegaraan Palestina. Betapa tidak, mereka membunuh imam masjid, membunuh ulama-ulama yang dihormati, membunuh pejuang dan mujahidin, bahkan mereka berupaya sungguh-sungguh untuk membunuh sang Perdana Menteri dengan melontarkan Mortir RPG kekediamannya yang sederhana. "Allahu yarham", Ismail Haniyya lepas dari makar jahat mereka.

Tidak sebatas itu, mereka juga memberondong kantor Kementrian Pemuda dan Olahraga serta Wakil Perdana Mentri. Berikut adalah beberapa petikan berita dari www.infopalestina.com:

"Sejumlah sumber local menyebutkan, pasukan keamanan presiden yang tunduk di bawah intruksi presiden Mahmod Abbas dan kelompok kudeta bersenjata yang dipimpin salah satunya oleh Mohamad Dahlan melepaskan misil RPG anti tank secara langsung ke arah rumah kediaman PM Palestina Ismael Haniya. Serangan ini menimbulkan kerusakan namun belum ada informasi terjadinya jatuh korban di antara keluarga PM Haniya. Sumber-sumber tersebut menegaskan, PM Ismael Haniya masih segar bugar dari tidak mengalami luka apapun. Selasa (12/06)."

"Anggota kelompok kudeta dari gerakan Fatah menembakan roket R.P.G ke rumah Wakil Menteri Penerangan Palestina Dr. Husain Abu Hasyisy di kamp pengungsi Shati di barat kota Gaza, Rabu (13/06)."

"Menurutnya (Pejabat Sementara Ketua Parlemen Palestina, Dr. Ahmad Baher), pembunuhan yang dilakukan anggota dinas keamanan kepresidenan terhadap seorang dai Muhammad al Rafati, Imam Majid al Abbas di Gaza, setelah menyerang rumah korban dan menyeretnya keluar lalu menembaknya, adalah “bukti bahwa ini bukan tindakan orang Palestina. Ini adalah agenda luar dan seruan untuk menciptakan chaos yang disampaikan Menteri Luar Negeri Amerika Condoleezza Rice.”

"Dua orang anggota Pasukan Eksekutif Depdagri Palestina gugur di tangan kelompok kudeta dari gerakan Fatah, Senin (11/06). Sementara itu sejumlah lainnya terluka dalam serangan ke markas Pasukan Eksekutif di dekat rumah sakit Beit Hanun, wilayah utara Jalur Gaza."

Oleh karena itu, atas darah-darah suci para syuhada dan pejuang Palestina, aku menyampaikan pernyataan sikap sebagai berikut:

  1. Mengutuk gerombolan pro-kudeta sempalan sayap militer Fatah yang telah membunuh dengan keji dan menumpahkan darah kaum muslimin para mujahid Palestina.
  2. Mengecam dengan tegas atas sikap diamnya Mahmud Abbas yang membiarkan tindakan biadab tentara-tentara kepresidenan membunuhi ulama dan tokoh-tokoh Hamas khususnya dan pejuang Palestina pada umumnya.
  3. Barang siapa yang telah menghalalkan darah kaum muslimin tanpa alasan yang sah sesuai syari’at, maka hukuman qishos adalah satu-satunya hukuman yang layak disandang para pembunuh. Oleh karena itu, wajib bagi pemerintah dan ulama Palestina untuk menghukum mati pasukan pro-kudeta pembunuh.
  4. Barang siapa yang menjadikan musuh-musuh Allah, Zionis Yahudi dan Harbi Amerika, sebagai ‘Tuhan’nya, maka mereka telah keluar dari Islam sejauh-jauhnya. Wajib bagi kaum muslimin memerangi mereka atas permusuhan dan peperangan yang mereka kobarkan. Halal darah mereka sampai mereka kembali kepada hidayah Allah SWT.
  5. Semoga Allah SWT mengampuni mereka, atau melaknat dan meng-adzab mereka dengan adzab yang paling pedih atas kejahatan dan pengkhianatannya terhadap Allah dan kaum muslimin Palestina, serta kaum muslimin di seluruh dunia.  

Demikian pernyataan sikap atas munculnya pengkhianatan kejam pasukan pro-kudeta dari sayap militer Fatah pimpinan Mohamad Dahlan.

 

Tangerang, 14 Juni 2007

 

a.n anak-anak muslim di seluruh dunia

Safiya Salwa Syahidah

 

+++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ 

June 12, 2007

Munashoroh PKS untuk Palestina

Filed under: Uncategorized

AKSI SOLIDARITAS UNTUK RAKYAT PALESTINA 

Ahad, 10 Juni 2007. Ratusan ribu kader dan simpatisan PKS memadati pelataran Monas Jakarta melakukan aksi solidaritas untuk bangsa Palestina bersamaan dengan telah berselangnya 40 Tahun penjajahan Israel atas bumi Al-Aqsho. 

 

Salwa STATEMENT

Filed under: Uncategorized

PERNYATAAN SIKAP SALWA ATAS PENJAJAHAN BANGSA PALESTINA 

 
Ahad, 10 Juni 2007 kemarin, ratusan ribu masa kaum muslimin Indonesia yang didominasi massa kader dan simpatisan PKS menjejali pelataran Monas Jakarta. Mereka berkumpul untuk melakukan aksi solidaritas atas 40 Tahun penjajahan Palestina oleh Yahudi la’natullah. Alhamdulillah, bersama ayah-bunda, Aku juga menjadi salah satu peserta aksi solidaritas yang dimotori oleh KNRP itu. Banyak tokoh yang hadir dan berorasi untuk menyatakan empatinya kepada bangsa Palestina yang masih saja terjajah. Berikut ini adalah petikan orasi dari Presiden PKS, Ir. Tifatul Sembiring:

"Sesungguhnya kehancuran Yahudi sudah dijanjikan oleh Allloh SWT dalam firmannya “Sungguh telah berlaku sunnah Allah SWT atas orang-orang sebelum kalian, maka berjalanlah kalian di muka bumi ini”.

Allah SWT pernah menghancurkan kaum Nuh karena mereka menghancurkan risalah Islam yang disampaikan oleh Nuh As. Allah pernah menghancurkan kaum Nabi Sholeh karena tidak taat kepada Nabi Sholeh. Allah pernah menghancurkan Kaum Hud, Kaum Adh, Kaum Shamud.

Allah pernah menghancurkan Fir’aun dimana Fir’aun punya kekuasaan militer yang dipimpin oleh Haman dan kekuasaan ideologi yang dipimpin oleh Fir’aun, kekuasaan ekonomi yang dipimpin oleh Korun. Inilah kekejaman Fir’aun yang dilambangkan oleh Amerika Serikat. Tapi dengan ketentuan Allah SWT ada suatu sunnah yang berlaku, Allah pasti hancurkan orang-orang yang menentang Allah SWT. Fir’aun Allah tenggelamkan di laut merah.

Allah pernah menghancurkan musuh-musuh Rasulullah diperang Badar. Allah menghancurkan Abu Jahal yang dimuliakan oleh orang-orang Qurais, tapi akhirnya terbunuh dan dilemparkan ke dalam sumur.

Gamal Abdul Naser dihancurkan kekuasannya. Lenin dan Stalin lima hari lima malam, mereka itu sakaratul maut karena membunuh kaum muslimin. Allah sudah menjungkirkan Markos dari kekuasaanya karena ia memusuhi dan membantai kaum muslimin di Moro. Jadi ini adalah sunnatullah bagi orang-orang yang bermain-main dengan Islam, Allah pasti akan menjungkirkan.

Saya ingin mengatakan dan menegaskan sekali lagi supaya generasi muda paham, supaya generasi muda tidak larut dalam idola-idola yang terahir ini. Bahwa status Israel kepada Palestina adalah agresor, penjajah. Sejangkalpun ia tidak berhak menempati tanah Palestina."

Aku sedih, prihatin, dan ingin menangis atas penderitaan tiada tara yang dialami saudara-saudara di Palestina. Betapa tidak, telah 40 tahun lamanya mereka hidup dibawah teror Israel penjajah. Rumah-rumah mereka hancur, pasar-pasar porak poranda, ladang mereka dipenuhi serpihan besi rudal dan martir. Jalan-jalan, jembatan, rumah sakit, masjid, banyak yang luluh lantak terkoyak oleh kekejian agresor terlaknat. Mereka pun harus tinggal ditenda-tenda pengungsian yang dipenuhi segala macam keterbatasan dan kekurangan. Bahkan tidak sedikit diantaranya yang menjadi ladang pembantaian seperti di Jenin, Sabra, dan Shatila.

Tak terhitung anak-anak yang terpisah dengan ayah-bunda dan saudara kandungnya, dan tak tersebut berapa banyak yang syahid meregang nyawa di tangan bengis Yahudi. Hingga tidak ada senyum dan air mata lagi, yang tersisa hanya tangan-tangan kecil pelempar batu.

Setelah 40 Tahun lamanya, situasi pun tidak berubah. Dibawah ‘perlindungan’ Amerika, Israel semakin kejam dan membabi buta menindas negeri kelahiran para nabi itu tanpa ampun dan belas kasihan. Namun, negeri-negeri lain yang berkoar tentang demokrasi dan kebebasan bungkam seribu bahasa atas penderitaan mereka dengan bersembunyi dibalik kepengecutan dan kehinaan. Bahkan mereka ikut mengembargo bangsa Palestina atas pilihannya untuk hidup dibawah naungan Islam dan da’wah bersama HAMAS.

Para penguasa negeri-negeri muslim yang kaya raya itu diam dan mendengkur atas derita kaum muslimin di bumi Al-Quds yang mestinya wajib mereka bela. Hanya karena ketakutannya kepada thogut Amerika dan Israel lah yang membuat mereka menggadaikan nurani hingga berlepas diri dari bangsa yang ditindas Yahudi terlaknat sekian lamanya.

Oleh karena itu, dalam momentum yang penuh dengan ruh perjuangan ini, Salwa menyampaikan pernyataan sikap sebagai berikut:

  1. Mengutuk bangsa Israel atas segala bentuk perusakan, penindasan, perampasan, penganiayaan, dan pembunuhan terhadap bangsa Palestina.
  2. Mengutuk pemerintah Amerika Serikat atas arogansi dan kedunguannya menjadi pendukung buta kejahatan Israel atas bangsa Palestina dan kaum muslimin di seluruh dunia.
  3. Mengecam kepada Dewan Keamanan PBB yang menutup mata atas penderitaan, penyiksaan, pemenjaraan, dan pembunuhan keji bangsa dan anak-anak Palestina yang dilakukan oleh Israel.
  4. Mengecam pemimpin negara-negara Islam dan pemimpin neraga-negara lain yang mengagung-agungkan demokrasi atas ketidakpedulinya kepada penderitaan bangsa dan bocah-bocah Palestina. 
  5. Menuntut kepada pemerintah RI untuk tidak lengah dan konsisten mendukung dan membantu bangsa Palestina mencapai kemerdekaannya secara utuh. Menolak segala bentuk kerjasama apapun dengan Israel, dan memboikot semua produk-produk yang mengalirkan keuntungannya untuk Yahudi.
  6. Menyerukan kepada kaum muslimin di seluruh dunia, untuk membantu dan meringankan beban penderitaan bangsa palestina dengan menyisihkan sebagian harta terbaiknya, dan apapun yang mampu dilakukan untuk membantunya. 
  7. Menyeru seluruh kaum muslimin di berbagai penjuru dunia untuk tidak pernah lelah mendoakan para mujahid-mujahidah, mujahid-mujahid cilik, dan pejuang palestina pada umumnya agar terus sabar, kokoh, dan terus-menerus menguatkan semangat juangnya sampai penjajah Israel terusir dari tanah Palestina dengan kehinaan.

Dan akhirnya, dengan mengharapkan ridho Allah SWT, semoga Allah menjadi sebaik-baik pelindung dan penjaga orang-orang beriman yang teraniaya. Dan semoga kehancuran bangsa Yahudi akan semakin dekat sebagaimana janji-janji Allah di dalam Al-Qur’an.

 

Kota Tangerang, 11 Juni 2007

a.n. Anak-anak muslim Indonesia

 

Safiya Salwa Syahidah 

June 7, 2007

Save AL-AQSHO Save PALESTINE

Filed under: Uncategorized
“Sejak perang tahun 1967, saya dan suami ingin bertemu dengan Omar dan Isham. Kami pergi untuk menemui mereka di Yordania tapi mendapat kesulitan untuk mendapat izin. Ketika kami sudah tua dan kami tidak lagi bepergian karena kondisi yang sulit, kami lama sekali menunggu untuk bisa bertemu mereka. Sampai ketika suami saya, ayah dari anak anak saya itu jatuh sakit, anak kami juga tetap tidak diizinkan untuk masuk ke Tepi Barat. Sampai akhirnya ayah mereka meninggal, dan mereka tak sempat bertemu dengan ayahnya.”
 
Petikan curahan hati seorang wanita tua diatas hanyalah satu diantara ribuan bahkan jutaan wanita palestina yang menderita akibat kejahatan zionis Israel. Bangsa yang dilaknat itu telah merampas senyum-senyum para Ibu di Palestina, mereka juga memeras kesedihan ayah-ayah di bumi para nabi itu. dan bahkan mereka juga yang telah merampas tawa canda bocah-bocah tegar Palestina.
 
Sudah 40 tahun lamanya mereka melakukan pendudukan dan pembantaian. Hingga anak-anak Palestina tak lagi mengenal mainan boneka atau pun mobil-mobilan, mereka hanya mengenal mainan batu, ketapel, dan air mata disela-sela dentuman rudal dan rentetan tembakan. Bengis dan sadis. Itulah pasukan ‘kera’ yang terlaknat sebagaimana disebutkan didalam Al-Qur’an.
 
Aku tahu, sudah tak terhitung berapa puluh ribu anak-anak Palestina yang syahid diterjang peluru mereka. Sudah tak hitung telah berapa banyak darah yang tertumpah oleh kekejaman Yahudi la’natullah.
 
Namun, sekalipun kalian dan kita tak boleh menyerah. Janji Allah pasti akan tiba. Hingga mereka tunggang langgang terusir dari bumi Al-Aqsho dengan kehinaan. Kuatkan kesabaran dan tajamkan perlawanan "innallaha ma’ana".
 
Ahad 10 Juni 2007 ini akan menjadi torehan sejarah penting. Kaum muslimin Indonesia dan selanjutnya diseluruh dunia, akan melakukan aksi solidaritas besar-besaran untuk mendukung kemerdekaan bangsa Palestina dari penjajah keji Yahudi.
 
Aku mengajak kepada seluruh kaum muslimin dan rakyat Indonesia untuk turut andil dalam ‘Aksi Solidaritas Rakyat Indonesia untuk Bangsa Palestina’ yang akan diadakan di Monas Jakarta. Sisihkan sebagian rizki kita untuk mereka. Satu peluru akan sangat bermanfaat untuk mengusir penjajah Israel. "One man one dollar to SAVE PALESTINE"